Artikel

“Ngaturang Lakon” Tradisi Makan Bersama di Desa Daup, Kintamani

08 November 2018 09:12:05  Administrator  438 Kali Dibaca  Berita Desa

Bali memang unik. Banyak hal yang mesti dilihat kalau berwisata ke Pulau Dewata ini. Seperti halnya tradisi di Desa Pekraman Daup, Kintamani. Ratusan krama desa ini, Rabu (28/6/2017) , memadati halaman Pura Bale Agung, desa pakraman setempat untuk makan bersama. Kegiatan makan bersama yang dilaksanakan sekitar pukul 14.00 Wita itu merupakan bagian dari tradisi ngaturang lakon yang dilaksanakan sepuluh mantan peduluan (pemimpin adat) Desa Pakraman Daup.

Jero Penyarikan Payu didampingi Perbekel Daup Dewa Nyoman Saliawan menjelaskan, ngaturang lakon menjadi tradisi yang wajib dilaksanakan oleh para mantan peduluan di Desa Pakraman Daup. Mereka yang termasuk dalam peduluan di antaranya jero kubayan, jero bau, jero singgukan, jero nyarikan termasuk pemangku.

Sementara kemarin yang ngaturang lakon ada sepuluh warga. Tujuh di antaranya pernah menjabat sebagai jero kubayan, dua jero bau dan satu jero mangku. ”Ngaturang lakon ini maknanya untuk mengembalikan bukti atau persembahan yang pernah diterima saat menjadi peduluan. Dan melalui tradisi ngaturang lakon inilah bukti itu dikembalikan,” ungkapnya.

Dalam tradisi ngaturang lakon, warga yang pernah menjadi kubayan atau kedudukan tertinggi dalam sistem ulu apad, wajib menghaturkan banten upakara dan dua ekor babi. Sementara warga yang pernah menjabat sebagai jero bau serta pemangku hanya menghaturkan seekor babi. ”Dalam tradisi ngaturang lakon kali ini, total ada 17 ekor babi yang dipersembahkan,” ujarnya.

Dipaparkan Jero Penyarikan Payu, tradisi ngaturang lakon diawali dengan prosesi negtegang, nanceb taring dan ngingsah. Prosesi itu sudah dimulai sejak empat hari lalu. Sementara kemarin, prosesi yang dilaksanakan yakni mapiuning di Pura Puseh pada pagi hari. Selain membawa banten, dalam prosesi mapiuning itu babi yang akan dipergunakan juga dibawa ke Pura Puseh.

Selanjutnya pada siang hari, usai melaksanakan prosesi mapiuning krama kembali ke Bale Agung dan menyembelih semua babi untuk kemudian dibuat berbagai olahan. ”Sebagian daging babi diolah untuk persembahan, sebagian lainnya dipakai malang atau dibagi rata ke seluruh kepala keluarga dan lainnya diolah untuk sarana makan bersama dalam bentuk lawar, sate, dan jenis makanan lainnya,” jelasnya.

Jero Penyarikan Payu mengatakan, tradisi ngaturang lakon sejatinya bukan merupakan sebuah keharusan. Namun kalau tidak dilaksanakan hal itu akan menjadi utang niskala. ”Seseorang berhenti menjadi peduluan kalau semua anaknya sudah menikah,” imbuhnya. (BTN/kmb)

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Facebook Desa

Statistik Penduduk

Sinergi Program

Prodeskel SSE

Aparatur Desa

Back Next

Info Media Sosial

Peta Desa

Arsip Artikel

07 Agustus 2018 | 11.756 Kali
Profil Potensi Desa
08 Agustus 2018 | 10.819 Kali
Kontak Kami
07 Agustus 2018 | 9.920 Kali
Profil Wilayah Desa
07 Agustus 2018 | 9.859 Kali
Sejarah Desa Daup
07 Agustus 2018 | 9.782 Kali
Profil Masyarakat Desa
06 Agustus 2018 | 9.769 Kali
Visi dan Misi
08 Agustus 2018 | 9.764 Kali
Karang Taruna

Agenda

Belum ada agenda

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:136
    Kemarin:127
    Total Pengunjung:100.787
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:100.24.118.144
    Browser:Tidak ditemukan

Komentar Terbaru

Hubungi Kami

Hubungi Kami